Surat yang Tak Akan Pernah Sampai..

surat ini ku alamatkan kepada :

seseorang..
yang ingin ku ikhlaskan kepergiannya..
karena tak ada lagi cerita yang inginku bagi bersamanya..

seseorang..
yang cerita tentangnya, inginku tutup dan kunci rapat-rapat..
tak akan pernah lagi ku buka..
"case closed"

semua bermula diawal 2019..
tahun dimana aku dan kamu 'berjumpa'..
mengenal..
menyapa..
berbagi suka..
meski berakhir duka..

lantas, hanya aku dan kamu?
mengapa bukan 'kita'..?
karena aku dan kamu, tak akan pernah menjadi 'kita'..

sejak awal, kamu sengaja..
sekedar membuat rencana..
tanpa ada upaya yang coba kamu wujudkan utuk menjadi 'kita'..
kamu biarkan aku nyaman, dan jatuh sendirian..
tak pula pernah ada rasa "saling" darimu..
yang ada, kamu berpaling..

aku hanya ingin berbagi..
tanpa mengharap 'kamu kembali'..
aku hanya ingin..
berpisah dengan cara yang baik..
meski nyatanya kamu tak terlalu baik..

dirimu hanya menjadikan hadirku..
tak lebih dari sekedar pelipur lara, dan
pelarian semata.. 

namun, terlepas dari apapun itu..
terimakasih telah ada untukku, 
selama setahun belakangan..
memberi warna pada hari-hariku..
menyempatkan dan memberi kabar..
di sela-sela aktivitas dan sibukmu..
by phone, video call dan pesan virtual lainnya..
meski tak jarang pula..
kamu datang dan hilang sesuka hatimu,
membiarkan aku menunggu..
tanpa aku tahu sebab menunggu..

aku sadar betul bahwa surat ini tak akan pernah sampai padamu,
tepatnya, aku menulis surat perpisahan yang hanya aku tunjukkan kepada diriku sendiri..

tak banyak yang ingin aku sampaikan..
karena aku tak lagi ingin mengais cerita,
dari sebuah ruangan bernama 'kenangan',
yang ujung-ujungnya malah membuat lukaku makin mengganga lebar...

aku hanya ingin mengatakan dan berterimakasih..
kepada kamu..
semoga senantiasa diberi kesehatan..
dilimpahi dan dimurahkan rezeki..
dijaga dan dilindungi dari marabahaya..
terimakasih kepada kamu, karena sudah meninggalkan aku..
tanpa pamit atau pesan tanda perpisahan..
janji ya, kamu harus bahagia dengannya..

kepada Sang Pencipta..
yang sudah berbaik hati menunjukkan bahwa kamu..
'bukan orang yang baik untukku'.
'bukan dermaga yang tepat untuk bersandar, 
dan 'bukan orang yang pantas disebut rumah'..

dan kepada diriku sendiri..
terimakasih sudah sabar,
sudah bertahan sejauh ini,
bisa diandalkan untuk tetap bekerja,
tersenyum..
kuat juga tabah, 
meski dibohongi sangat lama..
dan tetap baik-baik saja,
tidak menyakiti diri sendiri serta
bersedia menikmati, juga melewati fase panjang ini..
menjadikan semuanya, sebuah pelajaran berharga..
kamu 'hebat'..

meski sejujurnya, sampai dengan surat ini dibuat, 
aku belum bisa baik-baik saja seutuhnya..
maaf..

sekali lagi maaf,
karena..
sesekali aku masih merindukannya..
menunggu pesannya,
menunggu kehadirannya..
meski tahu, ia tak akan pernah 'kembali'..
maaf karena belum bisa menghapus foto-fotonya
dan seluruh jejak ceritanya dari ponsel..
dan maaf..
karena sesekali 'aku' masih menangisinya..

hei kamu..
aku pamit..

hei aku..
lekas membaik yaa..

be yourself, love yourself yapp..
you deserve better..

sayonara
, 2019..

Komentar

Postingan Populer